Selasa, 13 Maret 2018

KONSISTENSI DALAM MENJALANKAN AMANAH IKATAN REPRESING IMM KE 54 ( 14 Maret 1964 – 14 Maret 2018 )


Konsistensi dalam upaya pemajuan dan penegakan Indonesia yang berdaulat tentu menjadi pilar utama bagi Ikatan Mahasisiwa Muhammadiyah yang dimana selalu mengutamakan kemaslahat keummatan. Membangun integritas tentu menjadi suatu keharusan. Apalagi saat-saat sekarang ini, ikatan mahasiswa muhammadiyah membutuhkan sosok-sosok yang tidak hanya pada penampilan luarnya saja, untuk memikul amanah ikatan secara multidimensional; baik dalam tataran yang bersifat personal maupun yang bersifat kolektif. Namun jauh dari itu, gerakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah membutuhkan sosok-sosok yang menggunakan imannya sebagai motor penggerak dan nuraninya sebagai perisai dari pragmatisme yang oportunistis. Dengan kata lain, IMM membutuhkan sosok-sosok yang mapan mata hati dan pikirannya, di samping ia memiliki kapabilitas dalam menjalankan amanahnya.
Jika keraguan menjadi hambatan dalam menjalankan amanah padahal gerakan bukanlah tempat singgahan semata saja. Amanah adalah perintah tuhannya dimana perintah  tersebut harus dijalankan dengan sebaik mungkin, baik dengan tuhannya maupun dengan sesama manusia, jika amanah ikatan ditingalkan oleh orang berilmu maka konsistensinya perlu dipertanyakan. Cetus Eliot lebih jauh, jika benar bahwa ilmu pengetahuan justru membuat manusia kian bodoh dan menyeret dirinya ke tubir kematian. Bukan itu saja, ilmu pengetahuan juga, pada saat bersamaan, bahkan semakin menjauhkan manusia dari Tuhan.
Maka, alahkan tragis sesungguhnya nasib manusia di zaman kini. Ketika semua aktivitas kehidupannya, dari mulai tidur di pagi hari sampai pergi tidur lagi di malam hari, nyaris tidak  ada yang luput dari kebaikan ilmu pengetahuan (yang kelak diterapkan menjadi teknologi, dan karenanya dirangkai dalam suatu ungkapan khas. Bagaimana mungkin semua itu membuat kita bodoh (seperti disinggung penyair T.S. Eliot tadi, jika kita dapat mempergunakan sarana-sarana itu untuk lebih memberdayakan dan mengembangkan potensi keilmuan dalam menjalankan amanah ikatan, tentu akan lebih mudah untuk menjadi seseorang  patuh pada perintah tuhannya.
Mendidik hati dan nurani dengan sebaik mungkin, kemudian ditunjang lingkungan yang mendukung, sudah tentu menghasilkan integritas yang tinggi. Sehingga kita tidak perlu membayar media massa mahal-mahal untuk sekedar pamer kebaikan. Atau menyewa orang-orang untuk menyaksikan kelebihan kita di muka media. Integritas inilah yang menjadi modal utama bagi kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah untuk memupuk kepercayaan rakyat kepadanya. Bahkan lebih dari itu, ia bakal berbuah surga jika dibarengi dengan niat yang mulia.
Integritas merupakan sifat atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan dan kejujuran. Dengan demikian, di dalam integritas terhimpun berbagai sifat pendukung yang bisa membuat orang menjadi berwibawa dan terkenal jujur. Di antaranya yang paling menonjol dari sifat-sifat tersebut adalah kejujuran dan konsisten, begitu juga kedermawanan dan kesahajaan. Jika sifat tersebut melekat dan mendarah daging ke dalam alam bawah sadar, maka bisa dipastikan sifat-sifat mulia yang lain akan muncur di benah jiwa raga.
Jika kita melihat sosok yang paling agung yang pernah ada kala itu adalah Nabi Muhammad saw. Sosok yang memiliki integritas teragung sepanjang masa. Beliau telah memaksimalkan empat pondasi integritas tersebut dengan sebaik mungkin. Tidak ada yang meragukan wibawa dan kejujurannya serta “Sempurna”. Beliau telah sempurna menjadi panutan siapapun yang datang setelahnya. Ada al-Quran yang menjadi bukti. Ia telah disaksikan oleh Tuhan, betapa mulia budi pekertinya. Lalu memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk meneladaninya.
Jika demikian adanya, sudah selayaknya kita membuktikan diri. Sebab membangun integritas serta kosistens dalam menjalankan amanah tentu menjadi keutamaan untuk majunya gerakan karena kita harus tanamkan keyakinan ke alam bawah sadar kita masing-masing, bahwa integritas yang kita bangun semata-mata karena Allah, berikut sifat-sifat mulia yang mendukung terbentuknya integritas tersebut. Hingga akhirnya berbuah surga, muara perjalanan kehidupan yang didamba hamba-hamba Tuhan.
Tidak hanya itu, orang yang memiliki integritas sudah pasti disukai semua orang. Namanya akan harum di tengah-tengah umat. Ia akan menjadi cerita-cerita indah. Sebab setiap orang adalah bahan perbincangan bagi orang-orang setelahnya. Jadi mau tidak mau, kita harus menjadi bahan perbincangan yang baik dan menarik bagi mereka. Dan tentu, satu-satunya cara adalah membangun integritas serta kosisten dalam amanah maka akan menjadi sejarah yang baik.
Tetapi masalahnya mungkin justru kebalikan dari itu, terkadang amanah di abaikan dengan begitu saja. Lupa dan bahkan meninggalkan dengan begitu saja inilah fenomena manusia untuk zaman kini yang cendrung tidak konsisten dalam kehidupan dan bahkan dalam amanah ikatannya. Padahal islam, besyukur dalam amanah yang dimana menyadari bahwa semua nikmat dan anugerah yang kita peroleh dalam hidup bersumber dari Allah. Jika kesadaran itu yang tertanam dalam benak kemudian mengantarkan kita untuk menyampaikan rasa terima kasih dan pujian kepada Allah dalam bentuk lisan. Kemudian disusul dengan kesadaran untuk menjalankan amanah ikatan kemudian menggunakan anugerah dan nikmat itu sesuai dengan kehendak dari yang memberikan, yakni Allah SWT.
Peringkat-peringkat syukur yang telah diberikan amanah, tentu saja harus ditempuh melalui jalan ilmu pengetahuan. Sebab, tanpa pengetahuan (yang benar), seperti diceritakan diatas, maka berterima kasihlah kepada Allah bahwa amanah telah diberikan olehNya. Itulah sebabnya dalam Islam jika kosistensi dalam amanah maka akan  mendekatkan manusia kepada Allah , bukan malah menjauhkannya.
Sebab kesadaran memang bermula dari pengetahuan. Dan penegetahuan bahwa hidup dan kehidupan ini bersumber dari Allah, akan mengantarkan kepada sikap-sikap untuk selalu memuji dan bersyukur kepada Allah. Itulah yang membuat manusia selalu berprasangka baik kepada-Nya. Bahwa segala perbuatan dan ketetapan Allah itu senantiasa baik dan indah. Kesadaran itu pula yang akan mengantarkan kita (manusia) untuk lebih siap menghadap kepada-Nya. Maka dalam usia IMM yang ke-54 ini, tentu lebih mengantarkan kader-kader IMM kosisten dalam menjalankan amanah ikatan. Sebab amanah adalah perintah tuhannya.
Namun yang perlu diketahui, air yang murni pasti bersumber pada mata air berkualitas. Mengapa demikian, sebab ada banyak mata air ‘imitasi’ yang dijadikan landasan oleh manusia. Tiada lain mata air tersebut adalah Iman yang kokoh. Iman yang dibangun oleh penghayatan yang amat dalam, tentang keyakinan hati dan ajaran yang dibawa sang Nabi. Jadi, pondasi tersebut merupakan buah dari apa yang diyakini seseorang dan naluri fitrahnya, sebab Tuhan telah menjadikan agama-Nya mudah dan sesuai dengan fitrah manusia untuk menjalankan amanahnya.

Ikbal Ramzani P
Ketua DPD IMM Aceh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar