Konsistensi dalam upaya pemajuan dan penegakan Indonesia
yang berdaulat tentu menjadi pilar utama bagi Ikatan Mahasisiwa Muhammadiyah
yang dimana selalu mengutamakan kemaslahat keummatan. Membangun
integritas tentu menjadi suatu keharusan. Apalagi saat-saat sekarang ini, ikatan mahasiswa muhammadiyah membutuhkan sosok-sosok yang tidak
hanya pada penampilan luarnya saja, untuk memikul amanah ikatan secara multidimensional; baik dalam tataran yang
bersifat personal maupun yang bersifat kolektif. Namun jauh dari itu, gerakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah membutuhkan sosok-sosok yang menggunakan imannya sebagai motor
penggerak dan nuraninya sebagai perisai dari pragmatisme yang oportunistis.
Dengan kata lain, IMM membutuhkan sosok-sosok yang mapan mata hati dan
pikirannya, di samping ia memiliki kapabilitas dalam menjalankan amanahnya.
Jika keraguan menjadi hambatan dalam menjalankan
amanah padahal gerakan bukanlah tempat singgahan semata saja. Amanah adalah
perintah tuhannya dimana perintah tersebut harus dijalankan dengan sebaik
mungkin, baik dengan tuhannya maupun dengan sesama manusia, jika amanah ikatan
ditingalkan oleh orang berilmu maka konsistensinya perlu dipertanyakan. Cetus Eliot lebih jauh, jika benar bahwa ilmu pengetahuan justru
membuat manusia kian bodoh dan menyeret dirinya ke tubir kematian. Bukan itu
saja, ilmu pengetahuan juga, pada saat bersamaan, bahkan semakin menjauhkan
manusia dari Tuhan.
Maka,
alahkan tragis sesungguhnya nasib manusia di zaman kini. Ketika semua aktivitas
kehidupannya, dari mulai tidur di pagi hari sampai pergi tidur lagi di malam
hari, nyaris tidak ada yang luput dari
kebaikan ilmu pengetahuan (yang kelak diterapkan menjadi teknologi, dan
karenanya dirangkai dalam suatu ungkapan khas. Bagaimana mungkin semua itu
membuat kita bodoh (seperti disinggung penyair T.S. Eliot tadi, jika kita dapat
mempergunakan sarana-sarana itu untuk lebih memberdayakan dan mengembangkan
potensi keilmuan dalam menjalankan amanah ikatan, tentu akan lebih mudah untuk
menjadi seseorang patuh pada perintah
tuhannya.
Mendidik hati dan nurani dengan
sebaik mungkin, kemudian ditunjang lingkungan yang mendukung, sudah tentu
menghasilkan integritas yang tinggi. Sehingga kita tidak perlu membayar media
massa mahal-mahal untuk sekedar pamer kebaikan. Atau menyewa orang-orang untuk
menyaksikan kelebihan kita di muka media. Integritas inilah yang menjadi modal
utama bagi kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah untuk
memupuk kepercayaan rakyat kepadanya. Bahkan lebih dari itu, ia bakal berbuah
surga jika dibarengi dengan niat yang mulia.
Integritas
merupakan sifat atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga
memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan dan kejujuran.
Dengan demikian, di dalam integritas terhimpun berbagai sifat pendukung yang
bisa membuat orang menjadi berwibawa dan terkenal jujur. Di antaranya yang
paling menonjol dari sifat-sifat tersebut adalah kejujuran dan konsisten,
begitu juga kedermawanan dan kesahajaan. Jika sifat tersebut melekat dan
mendarah daging ke dalam alam bawah sadar, maka bisa dipastikan sifat-sifat
mulia yang lain akan muncur di benah jiwa raga.
Jika kita melihat
sosok yang paling agung yang pernah ada kala itu adalah Nabi Muhammad saw.
Sosok yang memiliki integritas teragung sepanjang masa. Beliau telah
memaksimalkan empat pondasi integritas tersebut dengan sebaik mungkin. Tidak
ada yang meragukan wibawa dan kejujurannya serta “Sempurna”. Beliau telah
sempurna menjadi panutan siapapun yang datang setelahnya. Ada al-Quran yang
menjadi bukti. Ia telah disaksikan oleh Tuhan, betapa mulia budi pekertinya.
Lalu memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk meneladaninya.
Jika
demikian adanya, sudah selayaknya kita membuktikan diri. Sebab membangun
integritas serta kosistens dalam menjalankan amanah tentu menjadi keutamaan
untuk majunya gerakan karena kita harus tanamkan keyakinan ke alam bawah sadar
kita masing-masing, bahwa integritas yang kita bangun semata-mata karena Allah,
berikut sifat-sifat mulia yang mendukung terbentuknya integritas tersebut.
Hingga akhirnya berbuah surga, muara perjalanan kehidupan yang didamba
hamba-hamba Tuhan.
Tidak hanya
itu, orang yang memiliki integritas sudah pasti disukai semua orang. Namanya
akan harum di tengah-tengah umat. Ia akan menjadi cerita-cerita indah. Sebab
setiap orang adalah bahan perbincangan bagi orang-orang setelahnya. Jadi mau
tidak mau, kita harus menjadi bahan perbincangan yang baik dan menarik bagi
mereka. Dan tentu, satu-satunya cara adalah membangun integritas serta kosisten
dalam amanah maka akan menjadi sejarah yang baik.
Tetapi
masalahnya mungkin justru kebalikan dari itu, terkadang amanah di abaikan
dengan begitu saja. Lupa dan bahkan meninggalkan dengan begitu saja inilah fenomena manusia
untuk zaman kini yang cendrung tidak konsisten dalam kehidupan dan bahkan dalam
amanah ikatannya. Padahal islam,
besyukur dalam amanah yang dimana menyadari bahwa semua nikmat dan anugerah yang kita
peroleh dalam hidup bersumber dari Allah. Jika kesadaran itu yang tertanam
dalam benak kemudian mengantarkan kita untuk menyampaikan rasa terima kasih dan
pujian kepada Allah dalam bentuk lisan. Kemudian disusul dengan kesadaran untuk menjalankan amanah ikatan kemudian menggunakan anugerah dan nikmat itu sesuai dengan kehendak dari
yang memberikan, yakni Allah SWT.
Peringkat-peringkat
syukur yang telah diberikan amanah, tentu saja harus ditempuh melalui jalan ilmu
pengetahuan. Sebab, tanpa pengetahuan (yang benar), seperti diceritakan diatas,
maka berterima kasihlah kepada Allah
bahwa amanah telah diberikan olehNya. Itulah sebabnya dalam Islam jika kosistensi dalam amanah maka akan mendekatkan manusia kepada
Allah , bukan malah menjauhkannya.
Sebab
kesadaran
memang bermula dari pengetahuan. Dan penegetahuan bahwa hidup dan kehidupan ini
bersumber dari Allah, akan mengantarkan kepada sikap-sikap untuk selalu memuji
dan bersyukur kepada Allah. Itulah yang membuat manusia selalu berprasangka
baik kepada-Nya. Bahwa segala perbuatan dan ketetapan Allah itu senantiasa baik
dan indah. Kesadaran itu pula yang akan mengantarkan kita (manusia) untuk lebih
siap menghadap kepada-Nya. Maka dalam usia IMM yang ke-54 ini, tentu lebih mengantarkan
kader-kader IMM kosisten dalam menjalankan amanah ikatan. Sebab amanah adalah
perintah tuhannya.
Namun yang perlu diketahui, air yang murni pasti bersumber pada mata air berkualitas. Mengapa
demikian, sebab ada banyak mata air ‘imitasi’ yang dijadikan landasan oleh
manusia. Tiada lain mata air tersebut adalah Iman yang kokoh. Iman yang
dibangun oleh penghayatan yang amat dalam, tentang keyakinan hati dan ajaran
yang dibawa sang Nabi. Jadi, pondasi tersebut merupakan buah dari apa yang
diyakini seseorang dan naluri fitrahnya, sebab Tuhan telah menjadikan agama-Nya
mudah dan sesuai dengan fitrah manusia untuk menjalankan amanahnya.
Ikbal Ramzani P
Ketua DPD IMM
Aceh