Minggu, 05 April 2020

Raja Bersilap

Ambang kemulian tak sekedar mengolah kata-kata untuk bersilap, sehingga terlihat sudah bahwa engkau sudah membangun tiran nestapa.

Inilah hidup dalam gengamang yang mengaku dirinya raja. Hahahahahhaha.
Raja....Raja......!!!!

Kau anggap kedudukan mu begitu mewah, nan megah di lihat mata. Padahal lupa, statusmu tak layak di panggil raja...

Kenapa.....?????
Karena engkau bukan manusia....

Manusia Kaum Dinasti

Kecerdasan manusia bukan sekedar untuk di ilustrasikan sebagai lelucon oleh kaum para raja.

Tapi kecerdasan manusia harus dimaknai dengan nilai penghargaan untuk mencapai kata mulia.

Bukan kata obrolan dengan untuk menuai seribu janji, sehingga dengan olahan meja untuk membangun istana dinasti.

Sedangkan Ocehan krucaci di anggap dapat merubah posisi kursi menjadi kaum banci.

Oleleh...... Leh....leh.. Dasar meja kaum para dinasti.....

Ikbal Ramzani P

Kotaku...

Kutinggalkan mu dalam sesaat, dengan langkah kaki yang penuh nespata.
Kadang terasa sunyi bagaikan benda mati yang tak berguna.

Kotaku.... Jika langkah ku membuatmu sedih, sedihlah padaku, jika suara ku membuat mu marah, marahlah padaku.

Karena aku tahu betapa peduli engkau padaku. Seperti bagaikan cahaya menerangkan arti pengalaman.

Kekwatiran, kerinduan, kenyamanan serta arti pertemanan dan persaudaraan. Maka aku tinggalkan mu untuk melakukan misi mulia yang diperintahkan oleh Rabbiku dan rabbimu

Sajak Cinta Di Bukit Tawar

Gumpalan Awan biru bercengkarama
Suara Petir memecahkan telinga
Hamparan Awan kuncurkan hujan lebat
Deseran angin runtuhkan dedaunan. 

Luasnya Laut diseberang kampung
Awan putih memancarkan cinta
Danau tawar menghadirkan persona desa Nan indah. 

Telunjuk Tangan melambangkan kesucian, 
Matahari bagaikan waktu Untuk pemurnian cinta untuk kaum hawa. 

Hijau hutan kian mencekam, hembusan angin kabarkan kasih, Tedengar nyanyian merdu suara rindu rintihan Sayang Si penggungah raga.. 


Selasa, 13 Maret 2018

Sandraan Cinta Dipusaran Kota

Wahai pemilik kota jangan engkau belengukan diri dalam cerita kaum raja. Anggap saja raja dulu bagian catatan buruk dalam prabadan mu wahai pemilik kota.

Wahai pemilik kota, kehadiran ku jangan kau anggap untuk menghambakannmu dalam tirai-tirai kesedihan.

Sebab aku bukan pembawa luka terhadap mu. Dan cinta itu tidak mengenal berapa lama umurmu, soal status sosial mu sebab aku bukan hakim untuk menilainya.

Jangan engkau sandrakan cinta wahai pemilik kota, sebab ia bukan sifat malapetaka. Kehadirannya membawa rasa yang dibentuk saling untuk saling percaya.


Lhokseumawe, 16 April 2020
Ikbal Ramzani P

KONSISTENSI DALAM MENJALANKAN AMANAH IKATAN REPRESING IMM KE 54 ( 14 Maret 1964 – 14 Maret 2018 )


Konsistensi dalam upaya pemajuan dan penegakan Indonesia yang berdaulat tentu menjadi pilar utama bagi Ikatan Mahasisiwa Muhammadiyah yang dimana selalu mengutamakan kemaslahat keummatan. Membangun integritas tentu menjadi suatu keharusan. Apalagi saat-saat sekarang ini, ikatan mahasiswa muhammadiyah membutuhkan sosok-sosok yang tidak hanya pada penampilan luarnya saja, untuk memikul amanah ikatan secara multidimensional; baik dalam tataran yang bersifat personal maupun yang bersifat kolektif. Namun jauh dari itu, gerakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah membutuhkan sosok-sosok yang menggunakan imannya sebagai motor penggerak dan nuraninya sebagai perisai dari pragmatisme yang oportunistis. Dengan kata lain, IMM membutuhkan sosok-sosok yang mapan mata hati dan pikirannya, di samping ia memiliki kapabilitas dalam menjalankan amanahnya.
Jika keraguan menjadi hambatan dalam menjalankan amanah padahal gerakan bukanlah tempat singgahan semata saja. Amanah adalah perintah tuhannya dimana perintah  tersebut harus dijalankan dengan sebaik mungkin, baik dengan tuhannya maupun dengan sesama manusia, jika amanah ikatan ditingalkan oleh orang berilmu maka konsistensinya perlu dipertanyakan. Cetus Eliot lebih jauh, jika benar bahwa ilmu pengetahuan justru membuat manusia kian bodoh dan menyeret dirinya ke tubir kematian. Bukan itu saja, ilmu pengetahuan juga, pada saat bersamaan, bahkan semakin menjauhkan manusia dari Tuhan.
Maka, alahkan tragis sesungguhnya nasib manusia di zaman kini. Ketika semua aktivitas kehidupannya, dari mulai tidur di pagi hari sampai pergi tidur lagi di malam hari, nyaris tidak  ada yang luput dari kebaikan ilmu pengetahuan (yang kelak diterapkan menjadi teknologi, dan karenanya dirangkai dalam suatu ungkapan khas. Bagaimana mungkin semua itu membuat kita bodoh (seperti disinggung penyair T.S. Eliot tadi, jika kita dapat mempergunakan sarana-sarana itu untuk lebih memberdayakan dan mengembangkan potensi keilmuan dalam menjalankan amanah ikatan, tentu akan lebih mudah untuk menjadi seseorang  patuh pada perintah tuhannya.
Mendidik hati dan nurani dengan sebaik mungkin, kemudian ditunjang lingkungan yang mendukung, sudah tentu menghasilkan integritas yang tinggi. Sehingga kita tidak perlu membayar media massa mahal-mahal untuk sekedar pamer kebaikan. Atau menyewa orang-orang untuk menyaksikan kelebihan kita di muka media. Integritas inilah yang menjadi modal utama bagi kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah untuk memupuk kepercayaan rakyat kepadanya. Bahkan lebih dari itu, ia bakal berbuah surga jika dibarengi dengan niat yang mulia.
Integritas merupakan sifat atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan dan kejujuran. Dengan demikian, di dalam integritas terhimpun berbagai sifat pendukung yang bisa membuat orang menjadi berwibawa dan terkenal jujur. Di antaranya yang paling menonjol dari sifat-sifat tersebut adalah kejujuran dan konsisten, begitu juga kedermawanan dan kesahajaan. Jika sifat tersebut melekat dan mendarah daging ke dalam alam bawah sadar, maka bisa dipastikan sifat-sifat mulia yang lain akan muncur di benah jiwa raga.
Jika kita melihat sosok yang paling agung yang pernah ada kala itu adalah Nabi Muhammad saw. Sosok yang memiliki integritas teragung sepanjang masa. Beliau telah memaksimalkan empat pondasi integritas tersebut dengan sebaik mungkin. Tidak ada yang meragukan wibawa dan kejujurannya serta “Sempurna”. Beliau telah sempurna menjadi panutan siapapun yang datang setelahnya. Ada al-Quran yang menjadi bukti. Ia telah disaksikan oleh Tuhan, betapa mulia budi pekertinya. Lalu memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk meneladaninya.
Jika demikian adanya, sudah selayaknya kita membuktikan diri. Sebab membangun integritas serta kosistens dalam menjalankan amanah tentu menjadi keutamaan untuk majunya gerakan karena kita harus tanamkan keyakinan ke alam bawah sadar kita masing-masing, bahwa integritas yang kita bangun semata-mata karena Allah, berikut sifat-sifat mulia yang mendukung terbentuknya integritas tersebut. Hingga akhirnya berbuah surga, muara perjalanan kehidupan yang didamba hamba-hamba Tuhan.
Tidak hanya itu, orang yang memiliki integritas sudah pasti disukai semua orang. Namanya akan harum di tengah-tengah umat. Ia akan menjadi cerita-cerita indah. Sebab setiap orang adalah bahan perbincangan bagi orang-orang setelahnya. Jadi mau tidak mau, kita harus menjadi bahan perbincangan yang baik dan menarik bagi mereka. Dan tentu, satu-satunya cara adalah membangun integritas serta kosisten dalam amanah maka akan menjadi sejarah yang baik.
Tetapi masalahnya mungkin justru kebalikan dari itu, terkadang amanah di abaikan dengan begitu saja. Lupa dan bahkan meninggalkan dengan begitu saja inilah fenomena manusia untuk zaman kini yang cendrung tidak konsisten dalam kehidupan dan bahkan dalam amanah ikatannya. Padahal islam, besyukur dalam amanah yang dimana menyadari bahwa semua nikmat dan anugerah yang kita peroleh dalam hidup bersumber dari Allah. Jika kesadaran itu yang tertanam dalam benak kemudian mengantarkan kita untuk menyampaikan rasa terima kasih dan pujian kepada Allah dalam bentuk lisan. Kemudian disusul dengan kesadaran untuk menjalankan amanah ikatan kemudian menggunakan anugerah dan nikmat itu sesuai dengan kehendak dari yang memberikan, yakni Allah SWT.
Peringkat-peringkat syukur yang telah diberikan amanah, tentu saja harus ditempuh melalui jalan ilmu pengetahuan. Sebab, tanpa pengetahuan (yang benar), seperti diceritakan diatas, maka berterima kasihlah kepada Allah bahwa amanah telah diberikan olehNya. Itulah sebabnya dalam Islam jika kosistensi dalam amanah maka akan  mendekatkan manusia kepada Allah , bukan malah menjauhkannya.
Sebab kesadaran memang bermula dari pengetahuan. Dan penegetahuan bahwa hidup dan kehidupan ini bersumber dari Allah, akan mengantarkan kepada sikap-sikap untuk selalu memuji dan bersyukur kepada Allah. Itulah yang membuat manusia selalu berprasangka baik kepada-Nya. Bahwa segala perbuatan dan ketetapan Allah itu senantiasa baik dan indah. Kesadaran itu pula yang akan mengantarkan kita (manusia) untuk lebih siap menghadap kepada-Nya. Maka dalam usia IMM yang ke-54 ini, tentu lebih mengantarkan kader-kader IMM kosisten dalam menjalankan amanah ikatan. Sebab amanah adalah perintah tuhannya.
Namun yang perlu diketahui, air yang murni pasti bersumber pada mata air berkualitas. Mengapa demikian, sebab ada banyak mata air ‘imitasi’ yang dijadikan landasan oleh manusia. Tiada lain mata air tersebut adalah Iman yang kokoh. Iman yang dibangun oleh penghayatan yang amat dalam, tentang keyakinan hati dan ajaran yang dibawa sang Nabi. Jadi, pondasi tersebut merupakan buah dari apa yang diyakini seseorang dan naluri fitrahnya, sebab Tuhan telah menjadikan agama-Nya mudah dan sesuai dengan fitrah manusia untuk menjalankan amanahnya.

Ikbal Ramzani P
Ketua DPD IMM Aceh

Kamis, 01 Februari 2018

Peta Pemikiran Islam Dalam Kekinian

untuk dapat menemukan pola dan peta pemikiran islam, kita dapat menunjukan konstruksi religiusitas yang baru dan yang segar yang kondusif bagi penyemaian spritualitas keagamaan yang apresiasif terhadap tantang zaman pada dewasa ini adalah dua pendekatan yang harus di tempuh pada zaman sekarang ini :
1.      Pendekatan optimistis yang menekankan atau memandang religiusitas sebagai sebuah kekuatan motivasional-dinamika.
2.      Pendekatan pesimistik yang menekankan religiusistas sebagai kekuatan dan struktur ideologis, baik oleh lapisan atas maupun oleh lapisan bawah dalam sebuah masyarakat muslim.
Dengan mengemukan dua pendekatan tersebut dapatlah secara ringkas dilakukan pemetaan jenis-jenis dan pola pemikiran keagamaan yang sekarang yang berada dalam sebuah persimpangan yang menegangkan, sehingga ada tarik menarik antara pemahaman agama yang satu dengan yang lain sehingga di jadikan sebuah ladang politik oleh pemahaman orang-orang tradisionalis untuk merebut kekuasaan politik pada saat sekarang ini. Maka jelas terjawab sudah persoalan – persoalan pada zaman zaman ini yang bukan lagi spiritual yang di prioritaskan akan tetapi  kekuasaan target utama, sehingga krisis ekologi, kemiskinan global, dan sebagainya malah di biarkan begitu saja padahal inilah yang perlu diperiotaskan untuk pembangunan masyarakat sejatinya.

Untuk dapat memilih berbagai pendekatan dalam islam maka di perlukan beberapa asumsi pokok agar gambaran islam dari bebagai disiplin tidak saling bertentangan dan faktor fundamental yang merupakan premis dalam menentukan cara berpikir umat manusia.Islam sebagai agama yang fitrah haruslah memiliki kemampuan daya sentuh yang aktual terhadap seluruh kehidupan manusia yang coraknya beranek ragam dan islam itu juga harus lahir ( berawal ) dari kesadari diri manusianya bukan struktur, sehingga mudah diraskan, difahami, dan juga di manifestasikan oleh pemeluknya, adapun islam agama yang hakiki dalam diri manusia yang sejati sehingga memanifestasinya adalah adanya keesaan Allah dan keesaan umat untuk memiliki pedoma untuk memahami islam sesungguhnya bukan memecahkan kekuatan islam yang sudah ada pada saat sekarang. Dan pada modernisasi sekarang ini sudah ada golongan pemecah agama dan juga sudah menjelaskan dalam Al-quran.
“ Sesungguhnya orang –orang yang memecahkan belahkan agama mereka dan mereka menjadi golongan, bukanlah engkau dari golongan mereka sedikit pun. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah.. ..( surah, al-An`aam [6] : 159 ) “

Oleh sebab itu mari jaga islam menjadi islam sesungguhnya bukan  islam yang menjadi pemeta kekuasaan dalam kehidupan untuk mencukupi finasial semata. Karena hakikikatnya islam tidak mengajarkan untuk memecah kaumnya tapi hanya tapi mempererat saudaranya yang jauh di dekatkan, yang sakitnya di sembuhkan, dan juga yang di berikan bantuan yang mencukupi ekonominya bukannya bukan pembohongan di berikan kepadanya