Kamis, 01 Februari 2018

Peta Pemikiran Islam Dalam Kekinian

untuk dapat menemukan pola dan peta pemikiran islam, kita dapat menunjukan konstruksi religiusitas yang baru dan yang segar yang kondusif bagi penyemaian spritualitas keagamaan yang apresiasif terhadap tantang zaman pada dewasa ini adalah dua pendekatan yang harus di tempuh pada zaman sekarang ini :
1.      Pendekatan optimistis yang menekankan atau memandang religiusitas sebagai sebuah kekuatan motivasional-dinamika.
2.      Pendekatan pesimistik yang menekankan religiusistas sebagai kekuatan dan struktur ideologis, baik oleh lapisan atas maupun oleh lapisan bawah dalam sebuah masyarakat muslim.
Dengan mengemukan dua pendekatan tersebut dapatlah secara ringkas dilakukan pemetaan jenis-jenis dan pola pemikiran keagamaan yang sekarang yang berada dalam sebuah persimpangan yang menegangkan, sehingga ada tarik menarik antara pemahaman agama yang satu dengan yang lain sehingga di jadikan sebuah ladang politik oleh pemahaman orang-orang tradisionalis untuk merebut kekuasaan politik pada saat sekarang ini. Maka jelas terjawab sudah persoalan – persoalan pada zaman zaman ini yang bukan lagi spiritual yang di prioritaskan akan tetapi  kekuasaan target utama, sehingga krisis ekologi, kemiskinan global, dan sebagainya malah di biarkan begitu saja padahal inilah yang perlu diperiotaskan untuk pembangunan masyarakat sejatinya.

Untuk dapat memilih berbagai pendekatan dalam islam maka di perlukan beberapa asumsi pokok agar gambaran islam dari bebagai disiplin tidak saling bertentangan dan faktor fundamental yang merupakan premis dalam menentukan cara berpikir umat manusia.Islam sebagai agama yang fitrah haruslah memiliki kemampuan daya sentuh yang aktual terhadap seluruh kehidupan manusia yang coraknya beranek ragam dan islam itu juga harus lahir ( berawal ) dari kesadari diri manusianya bukan struktur, sehingga mudah diraskan, difahami, dan juga di manifestasikan oleh pemeluknya, adapun islam agama yang hakiki dalam diri manusia yang sejati sehingga memanifestasinya adalah adanya keesaan Allah dan keesaan umat untuk memiliki pedoma untuk memahami islam sesungguhnya bukan memecahkan kekuatan islam yang sudah ada pada saat sekarang. Dan pada modernisasi sekarang ini sudah ada golongan pemecah agama dan juga sudah menjelaskan dalam Al-quran.
“ Sesungguhnya orang –orang yang memecahkan belahkan agama mereka dan mereka menjadi golongan, bukanlah engkau dari golongan mereka sedikit pun. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah.. ..( surah, al-An`aam [6] : 159 ) “

Oleh sebab itu mari jaga islam menjadi islam sesungguhnya bukan  islam yang menjadi pemeta kekuasaan dalam kehidupan untuk mencukupi finasial semata. Karena hakikikatnya islam tidak mengajarkan untuk memecah kaumnya tapi hanya tapi mempererat saudaranya yang jauh di dekatkan, yang sakitnya di sembuhkan, dan juga yang di berikan bantuan yang mencukupi ekonominya bukannya bukan pembohongan di berikan kepadanya 

Muhammadiyah dan NU Gerakan Pemikiran Islam di Indonesia


           Pengulatan pemikiran keislaman dalam wacana keindoensiaan sendiri memiliki irama cukup rancak. Ketegangan kreatif, ini tidak jarang menimbulkan suhu yang memanas dalam percaturan isu-isu sosial keagamaan. Dikotomi Islam tradisionalis dan Islam modernis seperti dilansir Deliar Noer ( 1985 ) merepresentasikan dua kutub pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia pada dekade 1940-an. Perkembangan sosio-politik dan wacana kebangsaan di tanah air, khusus Muslim indonesia di atas ke depan meja pertanggungjawaban sejarah.  
            Karena kontruksi itu sedikit banyak berimbas pada pasang surutnya harmonisasi hubungan kedua paham keagamaan tersebut. NU, yang mengindenfikasi diri sebagai cagar tardisi, selalu diperhadapkan secara diamentel dengan organisasi islam modernis seperti persis, al-Irsyad dan Muhammadiyah. Namum pada asas sosio-politik, tampaknya yang terakhir menjadi ulur kedua pasangan oposisi biner yang tepat bagi NU.
            Akan tetapi tarik ulur kedua organisasi itu tidak banyak melahirkan dampak yang positif bagi perkembangan pemikiran dan gerakan islam Indonesia kedepan. Bahkan pada tingkat tertentu menjadi faktor yang dapat mengikis kekebalan jaring-jaring sosio-kultural masyarakat sehingga menjadi rentan ketika dihadapkan dengan isu-isu politik dan kenegaraan. Kasus penggusuran K.H Abdurahman Wahid dari kursi kepresidenan harusnya menjadi pelajaran berharga bagi kedua organisasi ini dalam menata hubungan ke depan.
            Refleksi kritis atas peran atas peran dan kiprah kedua organisasi Islam tersebut dalam wcana ke-indonesiaan memunculkan pandangan-pandangan rekonsiliatif, inklusif dan akomodatif dalam menyikapi relasi tradisi dan modernitas. Perkembangan menggembirakan ini pada tingkat tertentu mulai memudarkan garis demarkasi islam tradisionalis dan Islam modernis. Dan tampaknya dominasi isu-isu sosial keagamaan kedua gerakan Islam ini dalam pentas keislaman Indonesia ( untuk sementara ) tergeser oleh dua mainstream pemikiran keagamaan global, yaitu fundamentalis Islam dan Islam Liberal. Setidaknya pada tingkat isu-isu islam komtemporer baik dalam konteks lokal maupun global.
            Gerakan dakwah pembaharuan menjadi modal awal umat Islam dalam memharmonisasikan persamaan dalam bingke kenegaraan. Sebab sebagai Organisasi Islam terbesar di Indonesia antara NU dan Muhammadiyah menjadi pilar utama bagi Negera Republik Indonesia dalam mengawal ke utuhan negara dan bangsa.