Kamis, 01 Februari 2018

Muhammadiyah dan NU Gerakan Pemikiran Islam di Indonesia


           Pengulatan pemikiran keislaman dalam wacana keindoensiaan sendiri memiliki irama cukup rancak. Ketegangan kreatif, ini tidak jarang menimbulkan suhu yang memanas dalam percaturan isu-isu sosial keagamaan. Dikotomi Islam tradisionalis dan Islam modernis seperti dilansir Deliar Noer ( 1985 ) merepresentasikan dua kutub pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia pada dekade 1940-an. Perkembangan sosio-politik dan wacana kebangsaan di tanah air, khusus Muslim indonesia di atas ke depan meja pertanggungjawaban sejarah.  
            Karena kontruksi itu sedikit banyak berimbas pada pasang surutnya harmonisasi hubungan kedua paham keagamaan tersebut. NU, yang mengindenfikasi diri sebagai cagar tardisi, selalu diperhadapkan secara diamentel dengan organisasi islam modernis seperti persis, al-Irsyad dan Muhammadiyah. Namum pada asas sosio-politik, tampaknya yang terakhir menjadi ulur kedua pasangan oposisi biner yang tepat bagi NU.
            Akan tetapi tarik ulur kedua organisasi itu tidak banyak melahirkan dampak yang positif bagi perkembangan pemikiran dan gerakan islam Indonesia kedepan. Bahkan pada tingkat tertentu menjadi faktor yang dapat mengikis kekebalan jaring-jaring sosio-kultural masyarakat sehingga menjadi rentan ketika dihadapkan dengan isu-isu politik dan kenegaraan. Kasus penggusuran K.H Abdurahman Wahid dari kursi kepresidenan harusnya menjadi pelajaran berharga bagi kedua organisasi ini dalam menata hubungan ke depan.
            Refleksi kritis atas peran atas peran dan kiprah kedua organisasi Islam tersebut dalam wcana ke-indonesiaan memunculkan pandangan-pandangan rekonsiliatif, inklusif dan akomodatif dalam menyikapi relasi tradisi dan modernitas. Perkembangan menggembirakan ini pada tingkat tertentu mulai memudarkan garis demarkasi islam tradisionalis dan Islam modernis. Dan tampaknya dominasi isu-isu sosial keagamaan kedua gerakan Islam ini dalam pentas keislaman Indonesia ( untuk sementara ) tergeser oleh dua mainstream pemikiran keagamaan global, yaitu fundamentalis Islam dan Islam Liberal. Setidaknya pada tingkat isu-isu islam komtemporer baik dalam konteks lokal maupun global.
            Gerakan dakwah pembaharuan menjadi modal awal umat Islam dalam memharmonisasikan persamaan dalam bingke kenegaraan. Sebab sebagai Organisasi Islam terbesar di Indonesia antara NU dan Muhammadiyah menjadi pilar utama bagi Negera Republik Indonesia dalam mengawal ke utuhan negara dan bangsa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar