Pengulatan pemikiran keislaman dalam wacana keindoensiaan sendiri
memiliki irama cukup rancak. Ketegangan kreatif, ini tidak jarang menimbulkan
suhu yang memanas dalam percaturan isu-isu sosial keagamaan. Dikotomi Islam
tradisionalis dan Islam modernis seperti dilansir Deliar Noer ( 1985 )
merepresentasikan dua kutub pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia pada
dekade 1940-an. Perkembangan sosio-politik dan wacana kebangsaan di tanah air,
khusus Muslim indonesia di atas ke depan meja pertanggungjawaban sejarah.
Karena kontruksi
itu sedikit banyak berimbas pada pasang surutnya harmonisasi hubungan kedua
paham keagamaan tersebut. NU, yang mengindenfikasi diri sebagai cagar tardisi,
selalu diperhadapkan secara diamentel dengan organisasi islam modernis seperti
persis, al-Irsyad dan Muhammadiyah. Namum pada asas sosio-politik, tampaknya
yang terakhir menjadi ulur kedua pasangan oposisi biner yang tepat bagi NU.
Akan tetapi tarik
ulur kedua organisasi itu tidak banyak melahirkan dampak yang positif bagi
perkembangan pemikiran dan gerakan islam Indonesia kedepan. Bahkan pada tingkat
tertentu menjadi faktor yang dapat mengikis kekebalan jaring-jaring
sosio-kultural masyarakat sehingga menjadi rentan ketika dihadapkan dengan
isu-isu politik dan kenegaraan. Kasus penggusuran K.H Abdurahman Wahid dari
kursi kepresidenan harusnya menjadi pelajaran berharga bagi kedua organisasi
ini dalam menata hubungan ke depan.
Refleksi kritis
atas peran atas peran dan kiprah kedua organisasi Islam tersebut dalam wcana ke-indonesiaan
memunculkan pandangan-pandangan rekonsiliatif, inklusif dan akomodatif dalam
menyikapi relasi tradisi dan modernitas. Perkembangan menggembirakan ini pada
tingkat tertentu mulai memudarkan garis demarkasi islam tradisionalis dan Islam
modernis. Dan tampaknya dominasi isu-isu sosial keagamaan kedua gerakan Islam
ini dalam pentas keislaman Indonesia ( untuk sementara ) tergeser oleh dua
mainstream pemikiran keagamaan global, yaitu fundamentalis Islam dan Islam
Liberal. Setidaknya pada tingkat isu-isu islam komtemporer baik dalam konteks
lokal maupun global.
Gerakan dakwah
pembaharuan menjadi modal awal umat Islam dalam memharmonisasikan persamaan
dalam bingke kenegaraan. Sebab sebagai Organisasi Islam terbesar di Indonesia
antara NU dan Muhammadiyah menjadi pilar utama bagi Negera Republik Indonesia
dalam mengawal ke utuhan negara dan bangsa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar