Minggu, 24 Juli 2016

Pengesaran Simbol Keagamaan Menjadi Bahan Politik

Sekitar dua tahun yang lalu umat islam di gaduhkan dengan sebuah simbol yang mengakibat perdebatan yang begitu panjang antara umat islam sendiri, yang pada akhirnya memunculkan sebuah politik dalam agama karena mencari popuraritas tersendiri, karena kebanyankan di dalam agama sudah menjadi bahan politik dan bahan bisnis oleh segelintir orang saja yang di merubah persfektif masyarakat dengan sebuah simbol agama, karena Aceh sendiri sudah melakukan hal sama dalam beberapa tahun ini yang selalu di doktrin oleh orang- orang tertentu, padahal melihat agama bukan secara simbolis saja akan tetapi di lihatlah secara hakekat ke taattannya atau prilaku mereka, sesungguh jangan mudah terpakau dengan simbol saja dalam agama, sebab simbol itu belum tentu mencerminkan isi sejatinya, sehingga tidak mengejutkan manakala simbol- simbol itu di buka, baru kita ketahuan bahwa isinya ternyata tidak ada sama sekali sehingga sulit untuk difahami.
            Karena itu, keterkaitan erat antara simbol keagamaan dengan retorika politik yang di mainkan oleh para faham agama pada saat ini, secara efektif mereka menggunakan simbol dan emosi keagamaan untuk mendukung kepentingan dan kebutuhan politik mereka masing- masing, berbarengan dengan rendahnya kesadaran politik rakyat akibat didera oleh faktor- faktor kemiskinan dan kebodohan. Semisalnya yang dilakukan oleh Daulah Umawiyah di Damaskus dan Daulah Abbasiyah di Baghdad, mereka mempertahankan kekuasaan politik dengan menggunakan simbol- simbol keagamaan sebagai legitimasinya, maka Aceh juga melakukan hal sama pada kekuasan karena agama akan di jadikan bahan kemenangan politik semata, padahal agama bukan tempat konfirasi politik semata dan juga asas suara politik, ini permainan kekuasaan karena agama  di lihat secara simbolis melainkan bukan secara pedoman Al-quran dan Sunnah yang di tinggal oleh Nabi Muhammad SAW. Karena teori mengatakan, “ al-muha’fadhatu ‘ala ‘l-qadimi ‘ l-shalih, wa ‘ l- akhzdu bi ‘l-jadidi ‘ l-ashlah, “ ( memelihara yang lama yang baik, dan mengambil yang baru yang lebih baik ). Jadi, nilai agama telah bergeser ke dalam simbol – simbol, sederhana apa pun simbol tersebut, sepanjang memiliki konotasi terhadap kepentingan tertentu, maka menjadi lakulah simbol itu, karena dalam Al-quran, “ Katakanlah : Sesungguhnya aku telah ditunjukan oleh tuhanku kepada jalan yang lurus, ( yaitu ) agama yang benar, agama ibrahim yang lurus ( banif ); dan ibrahim itu bukanlah termasuk orang – orang yang musyrik, ( Q.S. Al-An’am/6:161 ).

            Boleh jadi, penggunaan simbol – simbol serupa cenderung membawa pelakunya terjerumus ke dalam jurang kemusyrikan. Sebab, permainan simbol yang tidak di fahami secara mendalam akan hakikat dan mamfaatnya, niscaya simbol akan mudah memperdaya pelakunya untuk memuja dan menjadikannya sebagai “tuhan baru”, yang layak disembah dan patuhi. Gejala seperti itu mulai kita rasakan sedikit demi sedikit dalam wacana perpolitikan kita di masa – masa paling yang akhir ini. Karena kita takutkan di era Zaman ini Aceh akan kembali bentuk yang lain, yaitu melalui kedudukan pada wacana dan simbol – simbol keagamaan para pemimpinnya. Padahal Al-quran sudah menjelaskan bahwa, “ Tuhan tidak akan membebani hamba- nya kecuali pahala sejalan dengan kemampuan sang hamba. Ia mendapatkan pahala ( dari kebajikan ) yang di usahakannya dan ia mendapatkan siksa ( dari kejahatan ) yang dikerjakannya,” ( Q.S.Al-Baqarah/ 2 : 286 ). Maka kembalilah kepada ajaran Allah sesungguhnya jangan melihat agama secara simbolis akan tetapi lihat secara Allah SWT .mengajarkan yang di turunkan melalui oleh Nabi Muhammad SAW karena itu jelas tidak ada pembohongan dan tidak ada manipulatif sedikitpun yang di ajalkan kepada umat manusia sejatinya.

6 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Ah...... tulisan Ka oke...
    cuma kok hna titek, malah mandum koma.


    Sikonyol.com

    BalasHapus
  3. Balasan
    1. Hana keren kah...
      Kok jeut sombong punah, hana tem blogwalking bak blog lon.
      Kiban jeut ek trafik lage nyan, han tom tinggai backlink di blog gop laen..

      Belajar Ngeblog, Disini!

      Hapus
  4. Mantap... GEUT - Gerakan Jak Teumuleh

    BalasHapus
  5. terimong geunaseh ketua kurasa memang perele ta pakat ngon ngon mandum untuk jak tumuleh

    BalasHapus