Sekitar
dua tahun yang lalu umat islam di gaduhkan dengan sebuah simbol yang mengakibat
perdebatan yang begitu panjang antara umat islam sendiri, yang pada akhirnya
memunculkan sebuah politik dalam agama karena mencari popuraritas tersendiri,
karena kebanyankan di dalam agama sudah menjadi bahan politik dan bahan bisnis
oleh segelintir orang saja yang di merubah persfektif masyarakat dengan sebuah
simbol agama, karena Aceh sendiri sudah melakukan hal sama dalam beberapa tahun
ini yang selalu di doktrin oleh orang- orang tertentu, padahal melihat agama
bukan secara simbolis saja akan tetapi di lihatlah secara hakekat ke taattannya
atau prilaku mereka, sesungguh jangan mudah terpakau dengan simbol saja dalam
agama, sebab simbol itu belum tentu mencerminkan isi sejatinya, sehingga tidak
mengejutkan manakala simbol- simbol itu di buka, baru kita ketahuan bahwa
isinya ternyata tidak ada sama sekali sehingga sulit untuk difahami.
Karena itu, keterkaitan erat antara simbol keagamaan
dengan retorika politik yang di mainkan oleh para faham agama pada saat ini,
secara efektif mereka menggunakan simbol dan emosi keagamaan untuk mendukung
kepentingan dan kebutuhan politik mereka masing- masing, berbarengan dengan
rendahnya kesadaran politik rakyat akibat didera oleh faktor- faktor kemiskinan
dan kebodohan. Semisalnya yang dilakukan oleh Daulah Umawiyah di Damaskus dan
Daulah Abbasiyah di Baghdad, mereka mempertahankan kekuasaan politik dengan
menggunakan simbol- simbol keagamaan sebagai legitimasinya, maka Aceh juga
melakukan hal sama pada kekuasan karena agama akan di jadikan bahan kemenangan
politik semata, padahal agama bukan tempat konfirasi politik semata dan juga
asas suara politik, ini permainan kekuasaan karena agama di lihat secara simbolis melainkan bukan
secara pedoman Al-quran dan Sunnah yang di tinggal oleh Nabi Muhammad SAW. Karena
teori mengatakan, “ al-muha’fadhatu ‘ala ‘l-qadimi
‘ l-shalih, wa ‘ l- akhzdu bi ‘l-jadidi ‘ l-ashlah, “ ( memelihara yang
lama yang baik, dan mengambil yang baru yang lebih baik ). Jadi, nilai agama
telah bergeser ke dalam simbol – simbol, sederhana apa pun simbol tersebut,
sepanjang memiliki konotasi terhadap kepentingan tertentu, maka menjadi lakulah
simbol itu, karena dalam Al-quran, “
Katakanlah : Sesungguhnya aku telah ditunjukan oleh tuhanku kepada jalan yang
lurus, ( yaitu ) agama yang benar, agama ibrahim yang lurus ( banif ); dan
ibrahim itu bukanlah termasuk orang – orang yang musyrik, ( Q.S. Al-An’am/6:161
).
Boleh jadi, penggunaan simbol – simbol serupa cenderung
membawa pelakunya terjerumus ke dalam jurang kemusyrikan. Sebab, permainan
simbol yang tidak di fahami secara mendalam akan hakikat dan mamfaatnya,
niscaya simbol akan mudah memperdaya pelakunya untuk memuja dan menjadikannya
sebagai “tuhan baru”, yang layak disembah dan patuhi. Gejala seperti itu mulai
kita rasakan sedikit demi sedikit dalam wacana perpolitikan kita di masa – masa
paling yang akhir ini. Karena kita takutkan di era Zaman ini Aceh akan kembali
bentuk yang lain, yaitu melalui kedudukan pada wacana dan simbol – simbol keagamaan
para pemimpinnya. Padahal Al-quran sudah menjelaskan bahwa, “ Tuhan tidak akan membebani hamba- nya
kecuali pahala sejalan dengan kemampuan sang hamba. Ia mendapatkan pahala (
dari kebajikan ) yang di usahakannya dan ia mendapatkan siksa ( dari kejahatan
) yang dikerjakannya,” ( Q.S.Al-Baqarah/ 2 : 286 ). Maka kembalilah kepada
ajaran Allah sesungguhnya jangan melihat agama secara simbolis akan tetapi
lihat secara Allah SWT .mengajarkan yang di turunkan melalui oleh Nabi Muhammad
SAW karena itu jelas tidak ada pembohongan dan tidak ada manipulatif sedikitpun
yang di ajalkan kepada umat manusia sejatinya.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusAh...... tulisan Ka oke...
BalasHapuscuma kok hna titek, malah mandum koma.
Sikonyol.com
Siap salah ketua
BalasHapusHana keren kah...
HapusKok jeut sombong punah, hana tem blogwalking bak blog lon.
Kiban jeut ek trafik lage nyan, han tom tinggai backlink di blog gop laen..
Belajar Ngeblog, Disini!
Mantap... GEUT - Gerakan Jak Teumuleh
BalasHapusterimong geunaseh ketua kurasa memang perele ta pakat ngon ngon mandum untuk jak tumuleh
BalasHapus