Sabtu, 23 Juli 2016

ETIKA BERAGAMA, PERBEDAAN BUKAN LANDASAN SEGALANYA

Disaat bangsa kita sedang menghadapi masalah masalah besar yang belum sepenuhnya terselesaikan. Malah tampak semakin meyesakkan dada. Salah satu maslah besar itu adalah kenyataan bahwa akhir-akhir ini meyaksikan dengan perasaan mecekan suasana hubungan antar umat beragama di Tanah Air mulai terusik. Bahkan telah pula menelan banyak korban jiwa, kehormatan dan harta benda. Padahal bangsa kita indonesia yang memiliki tingkat tolleransi dan kerukunan beragama yang amat tinggi. Namum, intensitas konflik di masyarakat kita di akhir-akhir ini sangat kuat ada penancaman, teror meneror, dan juga pemukulan yang terjadi di kalangan masyarakat sesama muslim jika kekejaman ini mulai di kembangkan maka sulit sekali kemajuan islam akan di kenal di belah dunia, karena  bukan agama anarkisme dan juga bukan agama radikalisme, maka cukup logis jika diajukan pertanyaan, “ Adak[ah sesuatu nila yang mampu mempertemukan agama-agama di negeri ini sehingga membuat mereka ( para umat islam itu ) sesamanya tidak harus saling menghancurkan?”

Pertanyaan ini, jika jatuh kepada tangan masyarakat yang pesimis, biasanya dengan mudah mereka meragukannya, malahan mengingkarinnya. Akan tetapi, bila hal ini ditanyakan kepada masyarakat yang optimis, maka niscaya tanpa ragu secuil pun mereka akan segara menjawab, “tidak ada” karena islam tidak ada perbedaan hanya saja cara meraka berpendapat yang terlalu pramatis karena sesungguhnya islam agama yang sangat mulia bukan agama dagangan yang harus di perdagangkan di kalangan semata. Di sini sebenarnya makna terpenting dari upaya memahami islam, terutama dalam rangka menyelaraskan antara doktrin dengan konteks historis dan sosio-kultur masyarakat, sehingga doktrin keislaman mampu memberikan  pencerahan moral yang etis terhadap  problem kemanusia. Sebab memahami islam dalam konteks masa lalu termasuk dalam klaitannya sebagai norma-norma partikular, sebagaimana dijabarkan dalam khazanah klasik banyak hal hal yang kecil saja di jelaskan dalam  orang orang islam tapi hal-hal yang besar dan penting malah di lewatkan inilah terjadi dalam dunia islam sesungguhnya, Khususnya di Aceh tersendiri yang mayoritas islam tidak menjaga etika dalam beragama dan tidak ada rasa peduli terhadap sesama kaumnya, ada apa dengan umat islam sekarang? Jiak hal pendapat berbeda malah di katakan bukan islam sesungguhnya ke aneh apa yang di pikiran kaum tersebut,

      Sedangkan soal agama mestinya mempunyai pengaruh bagi transformasi sosial, bukan pembahasan fikih klasik menjadi pedoman karena dalam terminologi fikih, “ kalau perintah beribadah dilaksanakan dengan baik dan tepat akan mendapatkan pahala dari Allah SWT, dan kalau tidak dilaksanakan maka siksaan dari Allah di akhirat nanti. “ karena  di setiap peribadatan di ukur dengan pahala yang bersifat personal, bukan dengan perubahan yang bersifat kelompok atau secara golongan tertentu, namum nalar fikih menjelaskan bahwa setiap ibadah itu bukan dengan berhubungan ( hablum min Allah ) saja akan tetapi juga berkaitan dengan etika dan moral terhadap sesama harus di jaga atau dengan manusia ini problem mendasar harus di jalankan oleh umat manusia pada saat ini etika dalam beribadah harus sesuai dengan jalan yang sudah diluruskan oleh Nabi kita Muhammad SAW sendiri bukan ibadah yang memang tidak ada pemahaman di lakukan oleh masanya. Karena ongkos sangat mahar untuk di bayar dari pemahanan terhadap islam di atas adalah hilangnya rasionalitas dan humanitas dalam tradisi islam. Naquib Mahmud menjelaskan dalam bukunya, al- ma’qul wa alla ma’ qul fi turatsina al-fikry menbenarkan, bahwa sejarah islam terbagi menjadi dua corak yaitu fase rasional dan fase irasional. Ironisnya irasional adalah fase yang paling lama dalam tradisi islam. Sedangkan fase rasional hanya bisa bertahan satu hingga dua abad saja. Bahkan dalam sejarahnya, fase rasional terhenti sejak abad ke tujuh. Setalah itu yang menguasai seluruh dunia islam adalah fase irasional karena itu, kalangan rasional adalah terpinggirkan yang tak bisa bertahan begitu lama. Dan inilah kehidupan dalam dunia sesama di hormati dan dijaga bukan di hina dan di caci maki karena persoalan perbeda ke tentuan karena sesungguhnya perbeda itu bukanlah ukuran segalanya akan tetapi ibadahnya dengan tuhannya yang menjadi ukuran di akhirat nanti yang di persoalkan atau pertimbangan oleh sang maha agung apakah Surga atau Neraka karena semua itu hanya Allah tentukan segalanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar