Disaat
bangsa kita sedang menghadapi masalah masalah besar yang belum sepenuhnya
terselesaikan. Malah tampak semakin meyesakkan dada. Salah satu maslah besar
itu adalah kenyataan bahwa akhir-akhir ini meyaksikan dengan perasaan mecekan
suasana hubungan antar umat beragama di Tanah Air mulai terusik. Bahkan telah
pula menelan banyak korban jiwa, kehormatan dan harta benda. Padahal bangsa
kita indonesia yang memiliki tingkat tolleransi dan kerukunan beragama yang
amat tinggi. Namum, intensitas konflik di masyarakat kita di akhir-akhir ini
sangat kuat ada penancaman, teror meneror, dan juga pemukulan yang terjadi di
kalangan masyarakat sesama muslim jika kekejaman ini mulai di kembangkan maka
sulit sekali kemajuan islam akan di kenal di belah dunia, karena bukan agama anarkisme dan juga bukan agama
radikalisme, maka cukup logis jika diajukan pertanyaan, “ Adak[ah sesuatu nila
yang mampu mempertemukan agama-agama di negeri ini sehingga membuat mereka (
para umat islam itu ) sesamanya tidak harus saling menghancurkan?”
Pertanyaan
ini, jika jatuh kepada tangan masyarakat yang pesimis, biasanya dengan mudah
mereka meragukannya, malahan mengingkarinnya. Akan tetapi, bila hal ini
ditanyakan kepada masyarakat yang optimis, maka niscaya tanpa ragu secuil pun
mereka akan segara menjawab, “tidak ada” karena islam tidak ada perbedaan
hanya saja cara meraka berpendapat yang terlalu pramatis karena sesungguhnya
islam agama yang sangat mulia bukan agama dagangan yang harus di perdagangkan di
kalangan semata. Di sini sebenarnya makna terpenting dari upaya memahami islam,
terutama dalam rangka menyelaraskan antara doktrin dengan konteks historis dan
sosio-kultur masyarakat, sehingga doktrin keislaman mampu memberikan pencerahan moral yang etis terhadap problem kemanusia. Sebab memahami islam dalam
konteks masa lalu termasuk dalam klaitannya sebagai norma-norma partikular,
sebagaimana dijabarkan dalam khazanah klasik banyak hal hal yang kecil saja di
jelaskan dalam orang orang islam tapi
hal-hal yang besar dan penting malah di lewatkan inilah terjadi dalam dunia
islam sesungguhnya, Khususnya di Aceh tersendiri yang mayoritas islam tidak
menjaga etika dalam beragama dan tidak ada rasa peduli terhadap sesama kaumnya,
ada apa dengan umat islam sekarang? Jiak hal pendapat berbeda malah di katakan
bukan islam sesungguhnya ke aneh apa yang di pikiran kaum tersebut,
Sedangkan soal agama
mestinya mempunyai pengaruh bagi transformasi sosial, bukan pembahasan fikih
klasik menjadi pedoman karena dalam terminologi fikih, “ kalau perintah beribadah dilaksanakan dengan baik dan tepat akan mendapatkan pahala dari Allah
SWT, dan kalau tidak dilaksanakan maka siksaan dari Allah di akhirat nanti. “
karena di setiap peribadatan di ukur
dengan pahala yang bersifat personal, bukan dengan perubahan yang bersifat
kelompok atau secara golongan tertentu, namum nalar fikih menjelaskan bahwa
setiap ibadah itu bukan dengan berhubungan ( hablum min Allah ) saja akan
tetapi juga berkaitan dengan etika dan moral terhadap sesama harus di jaga atau
dengan manusia ini problem mendasar harus di jalankan oleh umat manusia pada saat
ini etika dalam beribadah harus sesuai dengan jalan yang sudah diluruskan oleh
Nabi kita Muhammad SAW sendiri bukan ibadah yang memang tidak ada pemahaman di
lakukan oleh masanya. Karena ongkos sangat mahar untuk di bayar dari pemahanan terhadap islam di atas adalah hilangnya rasionalitas dan humanitas dalam
tradisi islam. Naquib Mahmud menjelaskan dalam bukunya, al- ma’qul wa alla ma’
qul fi turatsina al-fikry menbenarkan, bahwa sejarah islam terbagi menjadi dua
corak yaitu fase rasional dan fase irasional. Ironisnya irasional adalah fase
yang paling lama dalam tradisi islam. Sedangkan fase rasional hanya bisa
bertahan satu hingga dua abad saja. Bahkan dalam sejarahnya, fase rasional terhenti
sejak abad ke tujuh. Setalah itu yang menguasai seluruh dunia islam adalah fase
irasional karena itu, kalangan rasional adalah terpinggirkan yang tak bisa
bertahan begitu lama. Dan inilah kehidupan dalam dunia sesama di hormati dan dijaga bukan di hina dan di caci maki karena persoalan perbeda ke tentuan karena sesungguhnya
perbeda itu bukanlah ukuran segalanya akan tetapi ibadahnya dengan tuhannya
yang menjadi ukuran di akhirat nanti yang di persoalkan atau pertimbangan oleh
sang maha agung apakah Surga atau Neraka karena semua itu hanya Allah tentukan segalanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar