Kepribadian Dalam Perspektif Islam
A. Pengertian Kepribadian
Allah SWT menciptakan manusia dengan bentuk yang paling baik ( ahsan al – taqwim ). Kebaikan manusia sangat ditentukan dengan kepribadiannya. Manusia dikatakan baik, ketika dia mempunyai kepribadian yang lurus.
Dalam Islam, kepribadian yang lurus adalah kepribadian yang di dalam terdapat keseimbangan antara tubuh dan jiwa serta terpenuhinya kebutuhan keduanya secara seimbang.
Kepribadian lurus adalah kepribadian yang memperhatikan tubuh, kesehtan, kekuatan, serta memenuhi berbagai kebutuhannya dalam batas yang telah digariskan agama, dan pada saat yang sama memegang teguh keimanan kepada Allah, beribadah, mengerjakan sesuatu yang diridhai, dan menjauhi sesuatu yang membuat Allah murka.
Orang yang hanyut pada hawa nafsu dan syahwat bukan orang yang berkepribadian lurus. Kebalikannya, orang yang menekan berbagai kebutuhan fisik dan melemahkannya dengan menempuh berbagai cara kependetaan secara berlebihan dan hidup sengsara hanya untuk memenuhi kehidupan spiritualnya, juga bukan orang yang lurus karena sikap ekstrem itu bertentangan dengan fitrah kemanusian. Karena itu, keduanya tidak akan bisa mewujudkan manusia yang hakiki dan tidak bisa mengantarkan menuju kesempurnaan hakiki.
Sikap islam terhadap perlunya keseimbangan itu jelas dari sikap Rasulullah yang menentang perbuatan tiga sahabatnya. Salah seorang dari mereka selalu menunaikan shalat sepanjang malam dan tidak tidur; yangk edua, senantiasa berpuasa sepanjang tahun dan tidak berbuka; dan yang ketiga, menghindarkan diri dari kaum wanita dan tidak menikah. Rasulullah kemudian berkata kepada mereka, “ Adapun aku, demi Allah, adalah orang yang paling bertaqwa kepada Allah, tetapi aku berpuasa dan berbuka, shalat dan tidur, dan menikah. Maka barangsiapa tidak suka kepada sunnahku, bukan dari golonganku.”
B. Tipe Manusia Dalam Al – Qur’an.
Dalam Al – Qur’an, manusia dapat dibagi dalam tiga kelompok, yaitu tipe kelompok mukmin, kafir, dan munafik.
Dalam Al – Qur’an kita mendapatkan pembagian manusia berdasarkan akidahnya kedalam tiga kelompok yaitu; mukmin, kafir, dan munafik. Masing – masing mempunyai citi – ciri pokok dan bersifat umum, yang membedakan satu dengan lainnya. Penggolongan manusia berdasarkan akidah ini sejalan dengan tujuan Al – Qur’an itu sendiri, yakni sebagai kitab akidah dan hidayah. Pembagian ini juga menunjukkan tentang pentingnya akidah dalam membentuk kepribadian yang menentukan ciri – ciri khas dan dalam megarahkan tingkah lakunya kepada tujuan tertentu. Selain itu penggolongan ini menunjukkan bahwa faktor utama dalam menilai kepribadian menurut Al – Qur’an adalah dari sisi akidah dan ketaqwaannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.” ( QS al – Hujurat: 13 )
Al – Qur’an menunjukkan ketiga tipe manusia yaitu mukmin, kafir, dan munafik di pelbagai ayatnya. Misalnya, dalm permulaan surat al – Baqarah disebutkan orang yang beriman dalam empat ayat ( ayat 2 – 5 ), orang kafir dalam dua ayat ( 6 – 7 ), dan orang munafik dalam tiga belas ayat ( 8 – 20 ). Mereka juga disebutkan dalam pelbagai surat lainnya. Bahkan terdapat surat yang diberi nama golongan mereka, yaitu surat al – Mukminun, al – Kafirun, dan al – Munafiqun.
Al – Qur’an menjelaskan ketiga tipe itu dengan ciri masing – masing. Kami akan menyebutkan ciri – ciri yang paling penting, sebagaimana yang dijelaskan Al – Qur’an.
C. Ciri – Ciri Kepribadian Orang yang Beriman.
Apabila dihimpun ciri – ciri orang beriman sebagaimana disebutkan dalam Al – Qur’an, dapat diklasifikasikan kedalam sembilan bidang, yaitu :
1. Ciri – ciri yang berhubungan dengan akidahnya: Beriman kepada Allah, Rasul – Na, kitab – kitab – Nya, malaikat – Nya, hari akhir, hari kebangkitan dan perhitungan, sorga dan neraka, dan beriman kepda takdir Allah.
2. Ciri – ciri yang berhubungan dengan ibadahnya: Menyembah Allah, melaksanakan semua kewajibannya, seperti shalat, [uasa, zakat, haji, berjihad dengan jiwa dan harta, bertakwa kepada Allah, selalu mengingat-Nya, memohon ampunan-Nya, bertawakkal, dan selalu membaca Al – Qur’an.
3. Ciri – ciri yang berhubungan dengan kemasyarakatan: Membina hubungan baik dengan orang lain, dermawan dan suka menolong, tidak suka bermusuhan, meyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, suka memaafkan, mendahulukan kepentingan orang lain, menjauhi hal – hal yang tidak bermanfaat.
4. Ciri – ciri yang berhubungan dengan keluarga: berbuat baik kepada orangtua dan kaum kerabat, memperlakukan suami atau istri dengan baik, menafkahi keluarga.
5. Ciri – ciri yang berhubungan dengan akhlaq: Sabar, lapang ada, jujur, adil, amanah, menepati janji, mejaga diri dari perbuatan dosa, rendah hati, membela kebenaran, dan berjuang di jalan Allah, menjaga kehormatan, memiliki tekad yang kuat, mampu mengendalikan hawa nafsu.
6. Ciri – ciri yang berhubungan dengan perasaan ( emosional ): Mecintai Allah, selalu daam keadaan takut kepada siksa Allah dan berharap akan rahmat – Nya, mencintai sesamam manusia dan senang berbuat baik kepada sesama, mengendalikan amarah, tidak menyakiti orang lain dan mendengkinya, tidak menyombongkan diri, dan menyesal jika berbuat dosa.
7. Ciri – ciri yang berhubungan dengan keintelektualan: Selalu menafakuri alam semesta, senang menuntut ilmu, tidak suka mengikuti prasangka yang tidak benar, senang berpikir dan senang mencari kebenaran.
8. Ciri – ciri yang berhubungan dengan kehidupan sehari – hari: Ikhlas dalam beramal, membaguskan pekerjaan, dan selalu bersungguh – sungguh dalam mencari rezeki.
9. Ciri – ciri yang berhubungan dengan fisik: Kuat, sehat, bersih, dan suci.
Jika berfikir tentang ciri – ciri orang beriman sebagaimana yang digambarkan Al – Qur’an, bisa dibayangkan dalam benak kita suatu gambaran tepat yang membicarakan kehidupan seorang beriman. Ia benar – benar beriman kepada Tuhannya, menyembah, berpegang kepada nilai luhur kemanusiaan dan akhlak mulia, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, sosial maupun dalam menjalankan profesinya, dan dalam bekerja ia adalah teladan dalam keikhlasan, amanah dan kesempurnaan pekerjaannya. Gambaran orang beriman yang dijelaskan Al – Qur’an merupakan profil manusia sempurna dalam kehidupan yang masih berada dalam batas – batas kemampuan manusia untuk mencapainya.
Allah memerintahkan kita untuk berusaha dengan sungguh – sungguh, guna mewujudkan gambaran tersebut dalam diri kita. Rasulullah telah mendidik orang – orang yang beriman generasi pertama berdasarkan ciri – ciri ini. Karena itu, beliau berhasil mengubah kepribadian mereka secara total, dan mebentuknya menjadi pemimpin beriman mampu mengubah wajah sejarah melalui kepribadian mereka yang kokoh, akhlaq mulia, cita – cita tinggi, sifat mulia, dan keteladanan luhur yang didapatkan dari Al – Qur’an dan sunnah.
Gambaran orang beriman dalam Al – Qur’an itu merupakan contoh manusia mukmin yang harus diwujudkan secara nyata dalam kehidupan. Kita pun berusaha mendidik anak – anak berdasarkan hal tersebut, sehingga menjadi ciri utama yang melekat pada kepribadian mereka. Hanya dengan cara ini kita akan bisa membentuk masyarakat Islam yang benar dan sehat.
DAFTAR PUSTAKA
1. Al – Qur’an dan Terjemahnya.
2. Abu Zajariyya Yahya ibn Syaryf al – Nawawiy, Riyadl al – Shalihan, al – Riyadl, 1412 H / 1991, Cet 13.
3. Dr. Muhammad Utsman najati, Psikologi Qur’ani, terjemah : Hadi Fajar dan Abdullah.
4. Erhamwilda, Konseling Islami, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2009, Cet. I.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar